Semua Produk

FAWA’ID AN-NAHWIYYAH

“Fawa’id An-Nahwiyyah” adalah sebuah karya kolektif yang disusun oleh santri-santri Tim M2DK (Majelis Musyawarah Darul Khairat) dari Pondok Pesantren Darul Khairat. Buku ini hadir sebagai jawaban atas tantangan dalam mempelajari Ilmu Nahwu—ilmu kunci yang sangat penting untuk memahami Al-Qur’an, Al-Hadits, dan kitab-kitab agama lainnya.

Buku ini lahir dari rutinitas diskusi (musyawarah) yang intensif di kalangan santri , yang berupaya memecah kompleksitas kaidah Nahwu menjadi bahasan yang ringkas, jelas, dan sistematis. Dengan format tanya jawab, buku ini bertujuan mempermudah para penuntut ilmu dari berbagai jenjang untuk memahami konsep dasar, menjawab persoalan yang kerap muncul, dan memberikan manfaat praktis dalam penggunaan bahasa Arab yang baik dan benar.

Rp 50.000

Cahaya Pesantren: Bagian Kedua

Novel ini melanjutkan kisah Muhammad Fathir Al Kahfi, seorang santri teladan di Pesantren Bustanul Arifin yang telah ditempa menjadi pemuda beradab dan berilmu. Namun, menjelang kelulusan, Fathir menghadapi ujian berat berupa kesalahpahaman dan tekanan batin, yang membuatnya menyerah dan memutuskan melarikan diri dari pesantren.

Takdir membawanya pada kecelakaan hebat hingga mengalami koma dan amnesia total. Ia terbangun tanpa mengingat siapa dirinya, keluarganya, bahkan tempat asalnya. Namun, di tengah kekosongan ingatan, sebuah keajaiban spiritual terjadi: Fathir secara naluriah meminta untuk melaksanakan shalat saat mendengar adzan dan melafazkan semua bacaannya dengan sempurna, membuktikan bahwa iman yang tertanam di hati tak dapat dihapus oleh gegar otak.

Melalui pendampingan dan doa tak putus dari sang ibu, Fathir perlahan menemukan kembali dirinya. Ia akhirnya mengetahui bahwa ia telah difitnah, dan bahwa ujian berat itu adalah jalan untuk mengangkat derajatnya. Dengan hati yang pulih dan niat yang bulat, Fathir memutuskan untuk kembali ke pesantren—tempat yang ia anggap sebagai “rumah jiwa”—untuk melanjutkan pengabdiannya, meniti tangga ilmu, dan menemukan takdir yang telah disiapkan Allah untuknya dalam lingkup perjuangan pesantren

Rp 50.000

Lentera Qalbu: Nasihat bagi Penuntut Ilmu

“Lentera Qalbu” adalah kumpulan nasihat spiritual dan etika yang ditulis oleh para santri Pondok Pesantren Darul Khairat, diperuntukkan khusus bagi penuntut ilmu.

Secara ringkas, buku ini menitikberatkan pada filosofi bahwa Adab (akhlak) harus didahulukan sebelum Ilmu. Mengutip pepatah Imam Syafi’i, buku ini menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah sebuah totalitas yang menuntut pengorbanan seluruh diri, bukan sekadar mencari gelar.

Melalui kupasan mendalam terhadap makna huruf-huruf dalam kata “Ilmu” (عِلم), buku ini memandu pembaca untuk memiliki tiga kualitas utama: keterbukaan akal, peningkatan derajat, dan yang terpenting, kerendahan hati (tawadhuk). Intinya, “Lentera Qalbu” adalah panduan untuk membentuk pribadi pelajar yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mulia secara moral, memastikan ilmu yang didapat menjadi bermanfaat (nafi’) dan mendatangkan keberkahan.

Rp 50.000

Sepenggal Rindu (Cinta tumbuh karena terbiasa)

Rasa adalah anugerah, sekaligus ujian. Ia hidup dalam dada, berdenyut di antara harap dan takut. Kadang membuncah, kadang meredup, sering kali tak terbaca bahkan oleh pemiliknya sendiri.

Aku pernah percaya rasa adalah segalanya. Aku berlari, mencintai, menangis, dan berharap hanya karena rasa. Tapi aku lupa, rasa bisa menyesatkan jika tak diarahkan kepada yang Maha Menata hati.

Di satu senja, ketika langit membiaskan warna jingga yang ganjil, aku merasakan hampa yang tak bisa lagi kusebut luka. Seolah semua kebahagiaan semu yang kupeluk runtuh di bawah beratnya waktu. Saat itulah aku menyadari: sudah waktunya berhijrah, bukan hanya jasad, tetapi juga rasa.

Aku ingin mengembalikan setiap rasa ini kepada pemiliknya yang hakiki. Aku ingin menata ulang cinta, harap, rindu, bahkan kecewa, agar semua berlabuh hanya pada-Nya. Karena sungguh, hati takkan pernah tenang bila terus menggantungkan rasa kepada sesama makhluk.

Inilah perjalanan hijrahku, bukan sekadar berpindah langkah, tetapi berpindah rasa. Meninggalkan cinta yang keliru, menuju cinta yang tak lekang oleh waktu.

Dan semoga di ujung perjalanan ini, hatiku menemukan rumahnya yang sebenar-benarnya:
di bawah naungan ridha-Nya.

 

 

Penulis: Laily Shofaria, Muhammad Nurul Yaqin

Editor: Muhammad Nurul Yaqin

Rancang Sampul: Nurul Yaqin

Tata Letak Isi: Nurul Yaqin

 

Cetakan Pertama, November 2025

248 halaman

14 x 21 cm

ISBN: –

Rp 75.000

Mata Cadar Merah (2)

Di tengah embusan angin musim semi di negeri Ginseng. Tasim menapaki babak baru kehidupannya. la datang bukan sekadar untuk bekerja, melainkan untuk menunaikan sebuah perjanjian yang mengikat hatinya pada Inara, perempuan cerdas dan berwibawa yang menjadi atasannya sekaligus sosok yang tanpa sadar menanamkan benih kagum dalam dadanya. Namun setiap pertemuan, sebagaimana takdir yang pandai bermain rahasia, harus menemukan ujungnya. Ketika masa kontrak berakhir dan Inara memutuskan segalanya dengan tenang, Tasim memilih diam dalam luka yang anggun. Luka seorang lelaki sederhana yang mencintai dalam sembunyi, merasa tak pantas bersanding dengan bintang yang terlalu tinggi untuk digapai.

 

Hingga suatu senja di distrik tua Busan, langkahnya terhenti oleh pandangan sepasang mata yang tersembunyi di balik cadar merah. Dalam negeri yang lebih mengenal lonceng gereja dan denting lonceng kuil Buddha daripada lantunan adzan, kehadiran perempuan bercadar itu bagai kilatan masa lalu yang kembali hidup. Getar di dadanya pecah. Bayangan Andi, sahabat karibnya di Sidoarjo, dan sosok misterius bernama Mbok Hola kembali menari di benaknya. Perempuan yang dulu membuatnya jatuh cinta hanya karena tatapan sepasang mata di balik kain merah. Dunia seakan berputar lagi, membawa Tasim ke dalam labirin kenangan dan rasa yang belum sempat usai.

 

Namun, siapakah sebenarnya pemilik mata cadar merah itu kali ini? Apakah ia jelmaan masa lalu yang menuntut janji yang belum ditepati, ataukah sekadar takdir baru yang menuntunnya untuk mengenal cinta dengan cara berbeda? Di antara bayang kenangan dan cahaya masa depan. Tasim harus memilih, menatap kembali Inara yang masih tersimpan di relung hatinya, atau mengikuti langkah misterius perempuan bercadar merah yang seolah membawa pesan Ilahi di tengah negeri yang asing baginya.

Penulis: Muhammad Nurul Yaqin

Editor: Nurul Yaqin

Rancang Sampul: Nurul Yaqin

Tata Letak Isi: Nurul Yaqin

 

Cetakan Pertama, November 2025

432 halaman

14 x 21 cm

ISBN: –

Rp 75.000

SENJA BIRU: Cintaku di Seberang Lautan

Penulis: Embun Pembarep

Penerbit: Razka Pustaka

160 Hlm

Stok 100 Pcs

 

Eka adalah seorang guru muda dari Jawa yang penuh semangat dan cita-cita. Setelah bertunangan dengan Anar, calon dosen muda dari Surabaya, ia memulai babak baru hidupnya dengan mengajar di pedalaman Sungai Melayu, Borneo. Di tempat terpencil dengan jalan berlumpur dan sekolah sederhana, Eka menjalani hari-harinya dengan penuh dedikasi.

Namun di balik perjuangan itu, ada rindu yang diam-diam tumbuh, kepada Anar yang jauh di seberang pulau. Di tengah sunyi hutan Kalimantan, Eka sering menulis surat dan puisi untuk melawan sepi. Salah satunya, saat ia melihat senja biru di Bukit Maloy, tempat ia menumpahkan rindunya dalam bait-bait lirih yang bergetar antara cinta dan kesepian.

Anar, di sisi lain, berjuang dengan waktunya sendiri. Antara studi Nautika di Surabaya, dan impian besar untuk bisa hidup bersama Eka. Hubungan jarak jauh mereka diuji oleh jarak, kabar yang tak menentu, dan keteguhan hati yang perlahan diuji waktu.

Ketika Eka akhirnya berjuang keras mengurus mutasi ke Jawa demi mendekat pada Anar, takdir mempertemukannya seseorang bernama Putra, seorang guru fisika yang kelak menjadi saksi perjalanan cintanya. Putra diam-diam menaruh hati pada Eka, namun menyimpannya dalam ruang paling sunyi, karena ia tahu, cinta sejati tak selalu harus memiliki.

Tahun-tahun berjalan. Eka dan Anar akhirnya menikah, membangun keluarga harmonis, dan menapaki hidup bersama. Dua puluh tahun kemudian, mereka dikaruniai dua anak, hidup bahagia di Semarang. Sementara jauh di kaki Gunung Rinjani, seorang pria paruh baya bernama Putra kini mengabdikan dirinya sebagai relawan kemanusiaan. Dalam setiap langkahnya, ia membawa dua pelajaran abadi:

Dari Eka, ia belajar keikhlasan.

Dari Anar, ia belajar perjuangan.

Senja Biru, Cintaku di Seberang Lautan adalah kisah tentang cinta yang tidak selalu berakhir dengan memiliki, tentang rindu yang menjelma menjadi doa, dan tentang ketulusan hati yang bertahan di tengah waktu yang terus berjalan.

 

Stok 100 Pcs

Rp 50.000

99 untuk Patah Hati

Penulis: Embun Pembarep

Penerbit: Razka Pustaka

120 hlm

Stok 100 pcs

Dalam “99 untuk Patah Hati”, setiap bait adalah perjalanan sunyi menuju penerimaan. Terdiri dari 99 puisi yang lahir dari reruntuhan cinta, buku ini bukan sekadar kumpulan luka, melainkan perayaan atas kehilangan itu sendiri.

Melalui kata-kata yang sederhana namun sarat makna, penyair menelusuri ruang-ruang yang ditinggalkan: rindu yang tak sempat pulang, janji yang luruh di tengah waktu, dan cinta yang menjelma menjadi kenangan. Namun di balik getirnya patah hati, terselip kesadaran bahwa kehilangan pun layak dirayakan—karena di sanalah manusia belajar mencintai tanpa memiliki, dan melepaskan tanpa membenci.

“99 untuk Patah Hati” adalah buku bagi siapa pun yang pernah retak, pernah runtuh, dan masih berusaha menulis ulang dirinya dari serpihan. Sebuah undangan untuk berdamai dengan masa lalu, sekaligus menyapa kembali diri sendiri yang pernah hancur namun tetap ingin hidup.

Stok 100 Pcs

Rp 50.000

Fikih Keluarga

Penulis: Samsul Arifin & Kamilul Fiqri

Judul: Fikih Keluarga

200 Hlm

Stok 100 pcs

Membangun keluarga bukan hanya tentang menyatukan dua insan dalam satu ikatan, tetapi juga menyatukan dua jalan menuju ridha Allah. Buku Fiqih Keluarga hadir sebagai panduan praktis dan ilmiah bagi setiap muslim yang ingin mewujudkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, rahmah, dan penuh keberkahan.

Disusun dengan bahasa yang ringan dan sistematis, buku ini membahas berbagai aspek penting dalam kehidupan keluarga: mulai dari adab pernikahan, hak dan kewajiban suami istri, pendidikan anak, hingga cara menghadapi ujian rumah tangga dengan tuntunan syariat.

Melalui rujukan Al-Qur’an, hadits, dan pandangan ulama, para penulis menguraikan fiqih rumah tangga dengan pendekatan penuh hikmah dan kasih sayang. Setiap bab tidak hanya memberikan pengetahuan hukum Islam, tetapi juga menyentuh sisi spiritual dan moral dalam berumah tangga.

Buku ini sangat layak menjadi pegangan para pasangan suami istri, calon pengantin, maupun konselor keluarga Islam yang ingin membangun generasi yang kuat, beriman, dan berakhlak mulia.

Stok 100 pcs

Rp 65.000

CAHAYA PESANTREN: Dalam Rindu dan Bertumbuh

CAHAYA PESANTREN: Dalam Rindu dan Bertumbuh

Penulis: Samsul Arifin

200 hlm

Penerbit: Razka Pustaka

Di balik tembok pesantren yang sederhana, tersimpan lautan kisah tentang rindu, perjuangan, dan pertumbuhan jiwa. Cahaya Pesantren adalah sebuah novel inspiratif yang mengajak pembaca menelusuri kehidupan santri — tentang bagaimana mereka meniti jalan ilmu, menundukkan ego, dan menemukan makna hidup di bawah cahaya iman.

Melalui narasi yang hangat dan menyentuh, penulis menghadirkan potret kehidupan di pesantren dengan segala dinamika dan keindahannya: doa yang tak putus di antara sujud malam, tawa riang di sela kelelahan belajar, dan air mata yang jatuh diam-diam di bawah cahaya rembulan.

Setiap halaman mengajak pembaca merasakan kembali suasana khas pesantren — aroma kitab kuning, suara lantunan ayat suci, dan nasihat penuh hikmah dari para kiai yang menuntun dengan kasih. Di sana, rindu dan cinta bertransformasi menjadi energi untuk bertumbuh, menjadi manusia yang lebih dekat dengan Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Novel ini bukan sekadar kisah, melainkan perjalanan spiritual tentang menemukan diri di tengah keheningan pesantren.

Stok 100 Pcs

Rp 65.000

TERJEMAH KITAB KIFAYATU AL-‘AWWAM fi ILMI AL-KALAMI Karya Syeikh Muhammad Al-Fudhali (w. 1236 H/1820 M)

Sebagaimana telah dijelaskan dalam kitab Syarhu Al-‘Aqaid, bahwa Ilmu Tauhid adalah asas bagi ilmu-ilmu selainnya. Dengan demikian, tidaklah sah wudhu dan salat seseorang melainkan harus mengetahui serta mantap pada akidah-akidah (limapuluh) ini berikut perbedaan pendapat di dalamnya. Apabila dikatakan bahwa sifat lemah itu mustahil dimiliki oleh Allah Ta’ala, maka maksudnya yaitu sifat lemah tidak akan dibenarkan oleh akal pemikiran atas keberadaannya bagi Allah Ta’ala. Pun demikian, berlaku atas sifat-sifat mustahil yang lainnya. Apabila dikatakan bahwa Allah memberikan rejeki pada Si Zaid satu dinar, itu adalah sesuatu yang Jaiz (boleh, Pent.), maka maksudnya yaitu akal akan membenarkan kejadian itu dan ketiadaan peristiwa itu.

Rp 65.000
Tampilkan lebih banyak