Ada masa ketika hidup berjalan terlalu cepat, terlalu riuh, dan terlalu menuntut. Kita bangun dengan bahu yang berat, pikiran yang berserakan, dan hati yang kadang tak tahu harus meletakkan dirinya di mana. Dalam hiruk-pikuk itu, jiwa sering kali terasa seperti rumah tua yang lampunya meredup, masih berdiri, tapi membutuhkan sesuatu untuk kembali hidup. Di saat-saat itulah Kalam-Nya hadir bukan hanya sebagai bacaan suci, tetapi sebagai cahaya kecil yang mampu menuntun kita pulang ketika jalan mulai kabur. Firman-Nya tidak pernah membentak; ia berbisik pelan, seolah berkata, “Tenanglah, Aku di sini.”
Mengasuh jiwa dengan Kalam-Nya bukan tentang berubah seketika atau menjadi seseorang yang serba mulia dalam semalam. Proses itu lebih mirip menumbuhkan taman di dalam diri. Setiap ayat adalah benih yang kita tanam dalam sunyi; setiap makna adalah air yang kita titiskan sedikit demi sedikit agar ia tumbuh. Ada hari ketika kita melihat tunas kecil muncul, dan ada hari ketika kita merasa semuanya stagnan. Tapi begitulah tumbuhan bekerja, tanpa suara, tanpa drama, namun tumbuh juga pada akhirnya. Dan begitulah juga hati, ia pulih perlahan ketika disentuh oleh firman yang benar, walau kita sendiri tak sadar dari mana mulanya.
Lalu kita mulai memahami sesuatu, bahwa Kalam-Nya selalu datang tepat pada waktunya. Ketika kita gelisah, ia menawarkan ketenangan. Ketika kita goyah, ia memberi penopang. Ketika kita ragu tentang masa depan, ia menghadirkan janji tentang pertolongan. Bahkan ketika kita merasa paling jauh dari Tuhan, ayat-ayat-Nya seperti jalan setapak yang tetap menunggu untuk dilewati. Mereka tidak menuntut kita sempurna, hanya mengajak kita untuk kembali, sedikit-sedikit, sesuai irama yang mampu kita jalani.
Dan pada akhirnya, kita belajar bahwa merawat jiwa dengan Kalam-Nya adalah bentuk pulang yang paling tulus. Bukan pelarian, tapi pemulihan. Bukan kewajiban yang terasa berat, melainkan kebutuhan yang membuat napas terasa lebih lapang. Dunia terlalu bising untuk hati yang rapuh, dan kita terlalu sering memaksa diri kuat tanpa memberi ruang untuk disembuhkan. Maka ayat-ayat Allah hadir sebagai pelukan yang tak terlihat, menenangkan tanpa menyentuh, menguatkan tanpa memaksa, mengingatkan tanpa menghakimi.
Mengasuh jiwa dengan Kalam-Nya adalah perjalanan panjang, tetapi indah. la mengajarkan bahwa kita tidak harus sempurna untuk dicintai, tidak harus kuat untuk layak ditolong, dan tidak harus serba tahu untuk tetap dihargai. Yang kita butuhkan hanyalah keberanian kecil untuk membuka halaman, meletakkan ego di samping, dan membiarkan firman Tuhan menyapa kita apa adanya. Pelan-pelan, tanpa kita sadari, jiwa yang sempat retak mulai kembali utuh dan hati menemukan bentuk pulangnya yang selama ini ia cari.
Penulis: Muhammad Nurul Yaqin
Editor: Nurul Yaqin
Rancang Sampul: Nurul Yaqin
Tata Letak Isi: Nurul Yaqin
Cetakan Pertama, Desember 2025
113 halaman
14 x 21 cm
ISBN: –