Semua Produk

Mengasuh Jiwa dengan Kalam-Nya

Ada masa ketika hidup berjalan terlalu cepat, terlalu riuh, dan terlalu menuntut. Kita bangun dengan bahu yang berat, pikiran yang berserakan, dan hati yang kadang tak tahu harus meletakkan dirinya di mana. Dalam hiruk-pikuk itu, jiwa sering kali terasa seperti rumah tua yang lampunya meredup, masih berdiri, tapi membutuhkan sesuatu untuk kembali hidup. Di saat-saat itulah Kalam-Nya hadir bukan hanya sebagai bacaan suci, tetapi sebagai cahaya kecil yang mampu menuntun kita pulang ketika jalan mulai kabur. Firman-Nya tidak pernah membentak; ia berbisik pelan, seolah berkata, “Tenanglah, Aku di sini.”

Mengasuh jiwa dengan Kalam-Nya bukan tentang berubah seketika atau menjadi seseorang yang serba mulia dalam semalam. Proses itu lebih mirip menumbuhkan taman di dalam diri. Setiap ayat adalah benih yang kita tanam dalam sunyi; setiap makna adalah air yang kita titiskan sedikit demi sedikit agar ia tumbuh. Ada hari ketika kita melihat tunas kecil muncul, dan ada hari ketika kita merasa semuanya stagnan. Tapi begitulah tumbuhan bekerja, tanpa suara, tanpa drama, namun tumbuh juga pada akhirnya. Dan begitulah juga hati, ia pulih perlahan ketika disentuh oleh firman yang benar, walau kita sendiri tak sadar dari mana mulanya.

Lalu kita mulai memahami sesuatu, bahwa Kalam-Nya selalu datang tepat pada waktunya. Ketika kita gelisah, ia menawarkan ketenangan. Ketika kita goyah, ia memberi penopang. Ketika kita ragu tentang masa depan, ia menghadirkan janji tentang pertolongan. Bahkan ketika kita merasa paling jauh dari Tuhan, ayat-ayat-Nya seperti jalan setapak yang tetap menunggu untuk dilewati. Mereka tidak menuntut kita sempurna, hanya mengajak kita untuk kembali, sedikit-sedikit, sesuai irama yang mampu kita jalani.

Dan pada akhirnya, kita belajar bahwa merawat jiwa dengan Kalam-Nya adalah bentuk pulang yang paling tulus. Bukan pelarian, tapi pemulihan. Bukan kewajiban yang terasa berat, melainkan kebutuhan yang membuat napas terasa lebih lapang. Dunia terlalu bising untuk hati yang rapuh, dan kita terlalu sering memaksa diri kuat tanpa memberi ruang untuk disembuhkan. Maka ayat-ayat Allah hadir sebagai pelukan yang tak terlihat, menenangkan tanpa menyentuh, menguatkan tanpa memaksa, mengingatkan tanpa menghakimi.

Mengasuh jiwa dengan Kalam-Nya adalah perjalanan panjang, tetapi indah. la mengajarkan bahwa kita tidak harus sempurna untuk dicintai, tidak harus kuat untuk layak ditolong, dan tidak harus serba tahu untuk tetap dihargai. Yang kita butuhkan hanyalah keberanian kecil untuk membuka halaman, meletakkan ego di samping, dan membiarkan firman Tuhan menyapa kita apa adanya. Pelan-pelan, tanpa kita sadari, jiwa yang sempat retak mulai kembali utuh dan hati menemukan bentuk pulangnya yang selama ini ia cari.

 

Penulis: Muhammad Nurul Yaqin

Editor: Nurul Yaqin

Rancang Sampul: Nurul Yaqin

Tata Letak Isi: Nurul Yaqin

 

Cetakan Pertama, Desember 2025

113 halaman

14 x 21 cm

ISBN: –

Rp 78.000

Tentang Kamu yang Masih Tinggal di Sini

Ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan oleh logika, termasuk caramu masih bertahan di ruang hati yang seharusnya sudah kututup rapat. Kamu tinggal seperti cahaya redup di balik tirai. Tidak terlalu terang untuk menyilaukan, tapi cukup hangat untuk membuatku sulit benar-benar pergi. Kadang aku bertanya pada diri sendiri, kenapa kamu masih ada di sini, padahal langkahmu sudah jauh dari hari-hariku.

Dan setiap kali rindu itu mengetuk, aku sadar, ternyata beberapa nama memang tak butuh alasan untuk tetap hidup dalam ingatan. Mereka menetap karena pernah membuat kita merasa pulang, walau hanya sebentar. Kamu adalah salah satunya. Jejak yang tidak kupaksa, namun selalu muncul di sela-sela jeda, di antara tawa yang tak sepenuh hati, atau dalam diam yang terlalu sunyi untuk disangkal.

Namun, di balik semua itu, aku juga belajar sesuatu, mencintai tak selalu berarti memiliki, dan merelakan tak selalu berarti melupakan. “Tentang kamu yang masih tinggal di sini bukan kisah tentang penantian, melainkan tentang keberanian untuk mengakui bahwa beberapa rasa memang diciptakan untuk tetap lembut, tetap jauh, dan tetap hidup, tanpa harus saling menggenggam lagi.

 

 

Penulis: Muhammad Nurul Yaqin

Editor: Nurul Yaqin

Rancang Sampul: Nurul Yaqin

Tata Letak Isi: Nurul Yaqin

 

Cetakan Pertama, Desember 2025

254 halaman

14 x 21 cm

ISBN: –

Rp 78.000

Jalan Pulang ke Diri Sendiri

Dunia mengajarkan kita untuk mengejar pengakuan, sampai kita lupa bagaimana rasanya mengakui diri sendiri. Kita didorong untuk selalu terlihat kuat, berprestasi, berguna, dan tak pernah salah; padahal di balik semua itu ada hati yang sering memohon untuk didengar. Kita membuktikan diri ke semua orang, tetapi jarang bertanya apakah kita sudah benar-benar kembali menjadi teman bagi diri sendiri.

Buku ini mengajakmu berhenti sejenak, bukan untuk menyerah, tetapi untuk pulih. Untuk memberi ruang bagi air mata yang selama ini tertahan. Untuk memberi izin pada hati agar beristirahat tanpa rasa bersalah. Untuk menghormati luka yang pernah kau sembunyikan, menghargai batas yang pernah kau abaikan, dan kembali percaya bahwa dirimu layak dicintai tanpa syarat.

Sebab kebahagiaan bukan datang ketika hidup berjalan sempurna, melainkan ketika kita memilih berdamai dengan diri sendiri. Kebebasan batin bukan muncul ketika semua orang memihak kita, melainkan ketika kita sendiri memihak diri kita. Dan kedewasaan bukan tercapai ketika semua orang memahami kita, tetapi ketika kita memahami diri kita tanpa perlu pembuktian apa pun.

Ini adalah perjalanan pulang, bukan pada masa lalu, bukan pada orang lain, melainkan kepada dirimu sendiri. Pulang kepada jiwa yang pernah kelelahan, namun masih ingin bertahan. Pulang kepada hati yang pernah patah, tetapi tetap ingin mencinta. Pulang kepada dirimu yang paling jujur, yang mungkin lama tidak kau temui karena selama ini terlalu sibuk menjadi sosok yang dunia inginkan.

Buku ini akan menuntunmu menemukan kembali dirimu yang hilang di tengah tuntutan, tekanan, dan pembuktian. la tidak memaksa, tidak menggurui, hanya menggandeng tanganmu dalam hening, sambil berbisik lembut:

Kamu tidak datang ke dunia ini untuk terus melawan dirimu sendiri.

Kamu berhak tenang.

Kamu berhak pulih.

Dan kamu… tetap layak bahagia, apa pun yang telah kamu lalui.

 

Penulis: Muhammad Nurul Yaqin

Editor: Nurul Yaqin

Rancang Sampul: Nurul Yaqin

Tata Letak Isi: Nurul Yaqin

 

Cetakan Pertama, Desember 2025

334 halaman

14 x 21 cm

ISBN: –

Rp 78.000

KH MOH SOEBAHAR (Potret Sang Pendidik Umat)

Buku ini menegaskan bahwa warisan terbaik adalah warisan ilmu dan keteladanan dari tokoh-tokoh lokal yang inspiratif. Keteladanannya bersemi dan mengakar di tengah-tengah masyarakat, dan menjadi pondasi karakter umat yang paling otentik.

 

Mohammad Hairul, M.Pd

Instruktur Nasional Literasi-Baca Tulis, sekaligus Ketua LTN PCNU Bondowoso

 

  1. Moh. Soebahar adalah sosok teladan yang membuktikan bahwa keteguhan hati dan keistikamahan dalam perjuangan mampu melahirkan generasi berilmu. Dengan kesederhanaan dan kegigihan yang luar biasa, beliau berhasil mendidik puttra-putrinya hingga mencapai pendidikan tertinggi (S3). Perjalanan beliau bukan hanya tentang keberhasilan akademik anak-anaknya, tetapi tentang kekuatan doa, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah meski penuh keterbatasan. Beliau menjadi cermin bahwa pendidikan adalah warisan paling mulia yang dapat diberikan orang tua kepada anak-anaknya.

 

Dr. Suheri, M.Pd.I

Rektor IAI At-Taqwa Bondowoso Periode 2021 – 2025

 

Buku yang ditulis Muhammad Nur Haris ini, sangat menyentuh perasaan karena ditulis dengan kedekatan emoisonal sekaligus ketelitian akademik. Ia membuat pembaca merasa seperti sedang duduk di serambi pesantren-mendengarkan nasihat, meraskan keteduhan, sekaligus dipacu untuk menjadi manusia yang lebih baik. Penulis mampu menghadirkan sosok KH Moh Soebahar yang penuh dengan ketulusan melakukan tirakat, mendidik diri dan keluarganya, hingga pengorbanannya dalam membentuk madrasah, pesantren dan masyarakat. Buku ini merupakan karya yang layak dibaca dengan hati, direnungkan dengan jiwa, dan diwariskan sebagai teladan bagi generasi yang akan datang. Jadi, selamat membaca…

 

  1. Andiono Putra, S.H.I., M.E

Ketua PC LAZISNU Bondowoso, Penggagas wartanu.com

 

Jika ingin belajar sukses, baik sebagai orang tua atau sebagai seorang pejuang pendidikan, belajarlah pada KH. Moh. Soebahar yang benar-benar sempurna sebagai teladan. Sebagai seorang Ayah, KH. Moh. Soebahar berhasil mendidik anak-anaknya untuk cinta pada ilmu melebihi hal lainnya. Sebagai bukti, tiga orang putera KH. Moh. Soebahar berhasil menjadi Guru Besar dan seorang berhasil menjadi Doktor. Sebagai seorang guru,  KH. Moh. Soebahar juga berhasil menginspirasi para santrinya untuk terus berada di jalur perjuangan terutama di medan dakwah dan pendidikan. Sosok KH. Moh. Soebahar benar-benar seorang teladan, tidak banyak contoh sukses seorang guru dan seorang ayah, secemerlang KH. Moh. Soebahar. Buku ini dapat menginspirasi dan menjadi rujukan bagi semua orang tua dan guru untuk belajar pada sosok KH. Moh. Soebahar.

 

Dr. H. Moh. Syaeful Bahar, M.Si

Ketua Yayasan Alifya Bondowoso sekaligus Ketua LP2M UINSA Surabaya

 

Penulis: Muhammad Nur Haris

Editor: Muhammad Nur Haris

Rancang Sampul: Lailatul Umi Masruroh

Tata Letak Isi: Nurul Yaqin

 

Cetakan Pertama, Desember 2025

200 halaman

14 x 21 cm

ISBN:

Rp 78.000

FAWA’ID AN-NAHWIYYAH

“Fawa’id An-Nahwiyyah” adalah sebuah karya kolektif yang disusun oleh santri-santri Tim M2DK (Majelis Musyawarah Darul Khairat) dari Pondok Pesantren Darul Khairat. Buku ini hadir sebagai jawaban atas tantangan dalam mempelajari Ilmu Nahwu—ilmu kunci yang sangat penting untuk memahami Al-Qur’an, Al-Hadits, dan kitab-kitab agama lainnya.

Buku ini lahir dari rutinitas diskusi (musyawarah) yang intensif di kalangan santri , yang berupaya memecah kompleksitas kaidah Nahwu menjadi bahasan yang ringkas, jelas, dan sistematis. Dengan format tanya jawab, buku ini bertujuan mempermudah para penuntut ilmu dari berbagai jenjang untuk memahami konsep dasar, menjawab persoalan yang kerap muncul, dan memberikan manfaat praktis dalam penggunaan bahasa Arab yang baik dan benar.

Rp 50.000

Cahaya Pesantren: Bagian Kedua

Novel ini melanjutkan kisah Muhammad Fathir Al Kahfi, seorang santri teladan di Pesantren Bustanul Arifin yang telah ditempa menjadi pemuda beradab dan berilmu. Namun, menjelang kelulusan, Fathir menghadapi ujian berat berupa kesalahpahaman dan tekanan batin, yang membuatnya menyerah dan memutuskan melarikan diri dari pesantren.

Takdir membawanya pada kecelakaan hebat hingga mengalami koma dan amnesia total. Ia terbangun tanpa mengingat siapa dirinya, keluarganya, bahkan tempat asalnya. Namun, di tengah kekosongan ingatan, sebuah keajaiban spiritual terjadi: Fathir secara naluriah meminta untuk melaksanakan shalat saat mendengar adzan dan melafazkan semua bacaannya dengan sempurna, membuktikan bahwa iman yang tertanam di hati tak dapat dihapus oleh gegar otak.

Melalui pendampingan dan doa tak putus dari sang ibu, Fathir perlahan menemukan kembali dirinya. Ia akhirnya mengetahui bahwa ia telah difitnah, dan bahwa ujian berat itu adalah jalan untuk mengangkat derajatnya. Dengan hati yang pulih dan niat yang bulat, Fathir memutuskan untuk kembali ke pesantren—tempat yang ia anggap sebagai “rumah jiwa”—untuk melanjutkan pengabdiannya, meniti tangga ilmu, dan menemukan takdir yang telah disiapkan Allah untuknya dalam lingkup perjuangan pesantren

Rp 50.000

Lentera Qalbu: Nasihat bagi Penuntut Ilmu

“Lentera Qalbu” adalah kumpulan nasihat spiritual dan etika yang ditulis oleh para santri Pondok Pesantren Darul Khairat, diperuntukkan khusus bagi penuntut ilmu.

Secara ringkas, buku ini menitikberatkan pada filosofi bahwa Adab (akhlak) harus didahulukan sebelum Ilmu. Mengutip pepatah Imam Syafi’i, buku ini menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah sebuah totalitas yang menuntut pengorbanan seluruh diri, bukan sekadar mencari gelar.

Melalui kupasan mendalam terhadap makna huruf-huruf dalam kata “Ilmu” (عِلم), buku ini memandu pembaca untuk memiliki tiga kualitas utama: keterbukaan akal, peningkatan derajat, dan yang terpenting, kerendahan hati (tawadhuk). Intinya, “Lentera Qalbu” adalah panduan untuk membentuk pribadi pelajar yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mulia secara moral, memastikan ilmu yang didapat menjadi bermanfaat (nafi’) dan mendatangkan keberkahan.

Rp 50.000

Sepenggal Rindu (Cinta tumbuh karena terbiasa)

Rasa adalah anugerah, sekaligus ujian. Ia hidup dalam dada, berdenyut di antara harap dan takut. Kadang membuncah, kadang meredup, sering kali tak terbaca bahkan oleh pemiliknya sendiri.

Aku pernah percaya rasa adalah segalanya. Aku berlari, mencintai, menangis, dan berharap hanya karena rasa. Tapi aku lupa, rasa bisa menyesatkan jika tak diarahkan kepada yang Maha Menata hati.

Di satu senja, ketika langit membiaskan warna jingga yang ganjil, aku merasakan hampa yang tak bisa lagi kusebut luka. Seolah semua kebahagiaan semu yang kupeluk runtuh di bawah beratnya waktu. Saat itulah aku menyadari: sudah waktunya berhijrah, bukan hanya jasad, tetapi juga rasa.

Aku ingin mengembalikan setiap rasa ini kepada pemiliknya yang hakiki. Aku ingin menata ulang cinta, harap, rindu, bahkan kecewa, agar semua berlabuh hanya pada-Nya. Karena sungguh, hati takkan pernah tenang bila terus menggantungkan rasa kepada sesama makhluk.

Inilah perjalanan hijrahku, bukan sekadar berpindah langkah, tetapi berpindah rasa. Meninggalkan cinta yang keliru, menuju cinta yang tak lekang oleh waktu.

Dan semoga di ujung perjalanan ini, hatiku menemukan rumahnya yang sebenar-benarnya:
di bawah naungan ridha-Nya.

 

 

Penulis: Laily Shofaria, Muhammad Nurul Yaqin

Editor: Muhammad Nurul Yaqin

Rancang Sampul: Nurul Yaqin

Tata Letak Isi: Nurul Yaqin

 

Cetakan Pertama, November 2025

248 halaman

14 x 21 cm

ISBN: –

Rp 75.000

Mata Cadar Merah (2)

Di tengah embusan angin musim semi di negeri Ginseng. Tasim menapaki babak baru kehidupannya. la datang bukan sekadar untuk bekerja, melainkan untuk menunaikan sebuah perjanjian yang mengikat hatinya pada Inara, perempuan cerdas dan berwibawa yang menjadi atasannya sekaligus sosok yang tanpa sadar menanamkan benih kagum dalam dadanya. Namun setiap pertemuan, sebagaimana takdir yang pandai bermain rahasia, harus menemukan ujungnya. Ketika masa kontrak berakhir dan Inara memutuskan segalanya dengan tenang, Tasim memilih diam dalam luka yang anggun. Luka seorang lelaki sederhana yang mencintai dalam sembunyi, merasa tak pantas bersanding dengan bintang yang terlalu tinggi untuk digapai.

 

Hingga suatu senja di distrik tua Busan, langkahnya terhenti oleh pandangan sepasang mata yang tersembunyi di balik cadar merah. Dalam negeri yang lebih mengenal lonceng gereja dan denting lonceng kuil Buddha daripada lantunan adzan, kehadiran perempuan bercadar itu bagai kilatan masa lalu yang kembali hidup. Getar di dadanya pecah. Bayangan Andi, sahabat karibnya di Sidoarjo, dan sosok misterius bernama Mbok Hola kembali menari di benaknya. Perempuan yang dulu membuatnya jatuh cinta hanya karena tatapan sepasang mata di balik kain merah. Dunia seakan berputar lagi, membawa Tasim ke dalam labirin kenangan dan rasa yang belum sempat usai.

 

Namun, siapakah sebenarnya pemilik mata cadar merah itu kali ini? Apakah ia jelmaan masa lalu yang menuntut janji yang belum ditepati, ataukah sekadar takdir baru yang menuntunnya untuk mengenal cinta dengan cara berbeda? Di antara bayang kenangan dan cahaya masa depan. Tasim harus memilih, menatap kembali Inara yang masih tersimpan di relung hatinya, atau mengikuti langkah misterius perempuan bercadar merah yang seolah membawa pesan Ilahi di tengah negeri yang asing baginya.

Penulis: Muhammad Nurul Yaqin

Editor: Nurul Yaqin

Rancang Sampul: Nurul Yaqin

Tata Letak Isi: Nurul Yaqin

 

Cetakan Pertama, November 2025

432 halaman

14 x 21 cm

ISBN: –

Rp 75.000

SENJA BIRU: Cintaku di Seberang Lautan

Penulis: Embun Pembarep

Penerbit: Razka Pustaka

160 Hlm

Stok 100 Pcs

 

Eka adalah seorang guru muda dari Jawa yang penuh semangat dan cita-cita. Setelah bertunangan dengan Anar, calon dosen muda dari Surabaya, ia memulai babak baru hidupnya dengan mengajar di pedalaman Sungai Melayu, Borneo. Di tempat terpencil dengan jalan berlumpur dan sekolah sederhana, Eka menjalani hari-harinya dengan penuh dedikasi.

Namun di balik perjuangan itu, ada rindu yang diam-diam tumbuh, kepada Anar yang jauh di seberang pulau. Di tengah sunyi hutan Kalimantan, Eka sering menulis surat dan puisi untuk melawan sepi. Salah satunya, saat ia melihat senja biru di Bukit Maloy, tempat ia menumpahkan rindunya dalam bait-bait lirih yang bergetar antara cinta dan kesepian.

Anar, di sisi lain, berjuang dengan waktunya sendiri. Antara studi Nautika di Surabaya, dan impian besar untuk bisa hidup bersama Eka. Hubungan jarak jauh mereka diuji oleh jarak, kabar yang tak menentu, dan keteguhan hati yang perlahan diuji waktu.

Ketika Eka akhirnya berjuang keras mengurus mutasi ke Jawa demi mendekat pada Anar, takdir mempertemukannya seseorang bernama Putra, seorang guru fisika yang kelak menjadi saksi perjalanan cintanya. Putra diam-diam menaruh hati pada Eka, namun menyimpannya dalam ruang paling sunyi, karena ia tahu, cinta sejati tak selalu harus memiliki.

Tahun-tahun berjalan. Eka dan Anar akhirnya menikah, membangun keluarga harmonis, dan menapaki hidup bersama. Dua puluh tahun kemudian, mereka dikaruniai dua anak, hidup bahagia di Semarang. Sementara jauh di kaki Gunung Rinjani, seorang pria paruh baya bernama Putra kini mengabdikan dirinya sebagai relawan kemanusiaan. Dalam setiap langkahnya, ia membawa dua pelajaran abadi:

Dari Eka, ia belajar keikhlasan.

Dari Anar, ia belajar perjuangan.

Senja Biru, Cintaku di Seberang Lautan adalah kisah tentang cinta yang tidak selalu berakhir dengan memiliki, tentang rindu yang menjelma menjadi doa, dan tentang ketulusan hati yang bertahan di tengah waktu yang terus berjalan.

 

Stok 100 Pcs

Rp 50.000
Tampilkan lebih banyak