Bukan Biduk Tanpa Nahkoda
Ia pulang, tetapi bukan kepada rumah-melainkan kepada kegelisahan yang terus memanggil nama yang tak pernah benar-benar hilang dalam dada yang lama terjaga. Di satu sisi, ada istri yang setia menunggu dalam diam yang nyaris tak bersuara; di sisi lain, ada masa lalu yang belum selesai, terbaring lemah di ruang yang penuh doa dan luka yang sama-sama menggema. Langkahnya terbelah. hatinya goyah, dan tanpa la sadari, la sedang menenggelamkan dirinya sendiri dalam cinta yang tak pernah ia pahami arahnya.
Malam derni malam ia berjalan tanpa tujuan, menyusun kebohongan yang semakin menyesakkan dada, hingga takdir menegurnya dengan cara yang tak bisa ditunda. Sebuah benturan yang merenggut kesadarannya seketika. Gelap datang tanpa aba-aba, dan ketika ia terbangun, bukan dunia yang berubah, melainkan hatinya yang dipaksa melihat siapa yang tetap tinggal ketika la hampir benar-benar hilang selamanya.
Di samping ranjang itu, seorang perempuan menggenggam tangannya tanpa lelah, menahan dengan doa, menjaga dengan air mata, dan mencinta tanpa meminta apa-apa. Namun, hidup belum selesai mengguncang arah yang telah retak. Sebuah pengakuan datang seperti petir di pagi hari, tentang rahasia yang tak pernah la duga, tentang keikhlasan yang terlalu besar untuk dimengerti oleh hati yang pernah keras kepala. Di titik itulah, ia dipaksa memilih, tetap tersesat dalam bayang masa lalu, atau benar-benar pulang kepada seseorang yang tak pernah pergi.
Lalu ketika semuanya terasa hampir menemukan jawaban, takdir kembali bergerak lebih cepat dari rencana manusia. Menghadirkan pertemuan yang tak disangka, membuka rahasia yang lama terkunci, dan menghadirkan kelegaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di sana, ia belajar satu hal yang tak pernah diajarkan slapa pun, cinta bukan tentang siapa yang datang lebih dulu, melainkan tentang siapa yang tetap tinggal ketika segalanya runtuh dan memilih untuk tetap menjaga. Ini bukan kisah tentang kesempumaan, melainkan tentang perjalanan yang penuh luka, tetapi tak kehilangan arah. Ini bukan tentang biduk yang terombang-ambing tanpa tujuan, melainkan tentang seseorang yang akhirnya sadar. la tak pernah benar-benar tanpa nahkoda, hanya saja ia terlalu lama menolak untuk percaya.
Ketika semua telah terjawab, satu pertanyaan tersisa “Jika kau berada di tempatnya, akankah kau memilih kembali atau tetap tenggelam dalam rasa yang tak pernah menemukan arah yang sama?”
Penulis: Muhammad Nurul Yaqin
Editor: Nurul Yaqin
Rancang Sampul: Nurul Yaqin
Tata Letak Isi: Nurul Yaqin
Cetakan Pertama, April 2026
278 halaman
14 x 21 cm
ISBN: –